”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (QS. An-Nahl/16: 125)
Alkisah, tersebutlah seorang kakek yang dikenal sangat rajin membaca Alquran
setiap pagi. Dia selalu duduk di meja dapur dan membaca Alquran. Cucu
laki-lakinya mencoba meniru sang kakek, dengan membaca Al-Qur’an setiap pagi.
”Kakek, saya mencoba membaca Alquran seperti Kakek, tapi saya tidak pernah bisa
mengerti. Setiap saat, saya membaca untuk memahami, tapi setiap saya selesai
membacanya dan menutup Alquran, saya selalu lupa lagi. Apa untungnya membaca Al-Qur’an?”
Sang kakek terdiam sejenak, dan sejurus kemudian menjawab, ”Tolong ambilkan air
dari sungai dengan keranjang ini, dan bawakan Kakek sekeranjang air.”
Sang cucu pun kemudian menuruti apa yang dikatakan oleh si kakek. Dia lalu
mengambil air dari sungai dengan keranjang. Namun, apa yang diperolehnya? Air
yang diambilnya dengan keranjang tadi selalu merembes ke luar dan habis sebelum
dirinya sampai di rumah.
Si kakek tertawa tanpa mau menolongnya. Dikatakannya kalau sang cucu harus
lebih cepat bergerak lain waktu.
Benar saja. Sang cucu di lain waktu kembali mencoba mengambil air dengan
keranjang dan berlari lebih cepat agar air dalam keranjang itu tidak habis sia-sia.
Namun, lagi-lagi tetap saja keranjang kosong sebelum dia sampai di rumah.
Kehabisan napas, sang cucu mengatakan kalau dirinya tidak mungkin membawa
sekeranjang air.
Untuk memuluskan niatnya mendapatkan kecukupan air, si cucu sekali lagi
mencobanya. Namun, ia kali ini mengambil sebuah ember untuk mengambil air.
Lantaran tahu maksud cucunya, sang kakek langsung berkata, ”Kakek tidak mau
seember air, tapi yang Kakek maui adalah sekeranjang air. Sungguh kamu tidak
cukup berusaha keras, Cucuku.”
Meski tahu bahwa hal itu adalah hal yang sangat tidak mungkin, sang cucu tetap membawakan
sekeranjang air dengan berlari secepat mungkin. Untuk yang terakhir kalinya,
usahanya tetap tidak membuahkan hasil seperti harapannya. Air yang diambilnya
dengan keranjang tersebut habis sebelum sampai ke rumah.
”Kakek…, apa yang saya lakukan ini sama sekali tidak ada gunanya!” cetus si
cucu, dengan nada sedikit kesal.
Dengan lemah lembutnya, tanpa
rasa amarah sang kakek itu hanya tersenyum. Ia tidak lama kemudian berujar,
”Jadi, kamu pikir, ini tidak ada gunanya? Coba kamu perhatikan keranjang ini
baik-baik, Cu….”
Sang cucu memperhatikan keranjang yang dibawanya, dan untuk pertama kalinya dia
tersadar, dan takjub bahwa keranjang yang ada di tangannya itu kini terlihat
sangat berbeda seka¬rang. Keranjang sudah berubah, dari keranjang yang kotor
menjadi keranjang yang sangat bersih sekarang, baik bagian luar maupun bagian
dalamnya.
”Cucuku, itulah yang terjadi saat kita membaca Alquran. Engkau mungkin tidak
dapat mengerti dan mengingat segalanya, tapi ketika membacanya, engkau akan
berubah menjadi lebih bersih, baik luar maupun dalam. Itulah yang dilakukan
Allah SWT untuk hidupmu.”
Hikmah yang bisa diambil dari kisah yang sederhana ini adalah bo¬leh jadi ki¬ta
tidak mengerti maupun tidak memahami sama sekali arti saat kita membaca Al-Qur’an.
Namun, ketika kita membacanya, tanpa kita sadari kita akan berubah, luar dan dalam.
Mari kita berupaya untuk hijrah menjadi lebih baik, dengan men¬syu¬kuri semua
nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada kita. Salah satu ungkapan rasa syukur
itu adalah dengan membaca Alquran untuk memperoleh rakhmat-Nya agar kita
menjadi insan yang lebih baik, lebih bersih, luar dan dalam.
Insya Allah.
Wallahualam bisawab.